Wednesday, December 30, 2015

Jelajah Sumatera Part #9 dari 10 : Menuju Lampung, Bakauheni dan kembali ke Bandung

Tanggal : 25/12/2015

Target :
  • Pantai-pantai Indah Sepanjang Lintas/Pantai Barat Bengkulu.
  • Pelabuhan Bakauheni, Lampung.  
  • Depok dan kembali ke Bandung.
Rute :
  • Total jarak : 666 km / 12,5 jam + 288 km / 5 jam menuju Depok dan lalu Bandung 
  • Melewati via Manna, Krui dan Kota Agung.
  • Sebelum memasuki Krui arah Lampung jalan benar- benar rusak parah, sempit, turun naik, lobang-lobang sebesar kambing tidur, gelap dan melalui hutan lebat yang dihiasi pohon-pohon tumbang.
Sebelum akhirnya meninggalkan Bengkulu saya mengisi kembali Pertadex sepenuh-penuhnya. Lalu melanjutkan perjalanan. Karena kondisi mobil yang sempat batuk-batuk di pagi hari, saya sempatkan ke bengkel Mitsubishi dalam perjalanan ke Manna, sayang kebetulan teknisinya sedang tidak ditempat, namun petugas jaga menghubungkan saya dengannya .  Teknisi lalu mengatakan jika sudah diisi Pertadex, mestinya Check Engine akan mati setelah beberapa lama. Lalu saya diberikan nomor beliau, sekiranya tetap ada problem dalam perjalanan. 

Sesampainya di Manna, kami membeli Es Kelapa Gula Merah yang rasanya sangat sedap, Lalu kerupuk Singkong dengan Sambal yang mengingatkan saya akan jajanan saat Sekolah Dasar di Sibolga dahulu.

Dekat dengan tempat membeli Es Kelapa Gula Merah, kami makan disebuah tempat bernama Pondok Wisata Tanah Lapang. Cukup kaget ketika melihat tempat ini ternyata penuh dengan Polisi. Kami memesan Coto Makassar, Es Pisang Ijo, Bebek Goreng dan Ayam Goreng Tepung, untuk semua pesanan ini kami membayar Rp. 191.800. Sempat berbicara dengan pemilik warung mengenai menu Makassar, ternyata beliau pernah tinggal di Makassar dan menguasai menu khas Sulawesi Selatan. 



Melewati Pantai di pesisir Bengkulu, mata saya terbelalak melihat keindahannya, kami sempat berhenti di dua pantai mengabadikan momen ini, sayang sekali laut sedang sedikit ganas, ombak berlapis lapis menghantam pantai dengan keras. Setelah pantai pertama kami bersitirahat di SPBU jam 16:37, dan alhmdulillah akhirnya indikator Check Engine hilang, berkat pengisian hampir 500 ribu Pertadex di dua SPBU sebelumnya. Setelahnya kami menemukan pantai kedua dan menikmati sunset sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Pantai kedua bernama Pantai Laguna Samudera Merpas, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, masuknya agak sedikit kedalam namun keindahannya melupakan perjuangan untuk mencapainya. Untuk masuk kendaraan dikenai Rp 30.000 sedangkan penumpang Rp. 10.000 per orang. 








Meski kondisi jalan semakin sulit, namun  perbatasan Bengkulu dan Lampung, memiliki pemandangan yang luar biasa indah, karena kita bisa melihat laut dari ketinggian bukit, pohon kelapa yang melambai, tanjung yang menjorok dalam ke laut, langit senja dengan matahari yang akan tenggelam, sungguh suatu sajian luar biasa. 


Saat di puncak bukit nampak sebuah hutan yang rimbun dan gelap, istri merasa lega karena mengira kami akan terus menerus menyusuri pantai. Namun jalan mengarahkan kami menuju hutan tersebut, mendadak jalan menjadi gelap gulita. Kiri kanan pohon pohon besar dan rimbun memayungi jalan. Rombongan mendadak terdiam dan tercekam, sementara saya rasanya salah memilih lagu "Telaga Sunyi" dari group lawas Koes Plus

Di kala sang bulan purnama
Bersinar di atas telaga
Terdengar suara menggema
Melagukan balada tua

Kisah seorang putri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni

Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni

Jika melewati Pantai/Lintas Timur serta Lintas Tengah masih relatif aman, menjelang perbatasan Bengkulu dan Lampung rute ini mungkin menjadi rute tersulit bagi kami, di beberapa ruas sangat sulit untuk berpapasan dan kadang harus berhenti, kami juga melewati hutan lebat, kadang dikombinasikan dengan jalan rusak. Sesekali nampak pengendara motor yang terlihat mencurigakan dalam kegelapan hutan dan tanpa lampu sama sekali. Adik ipar yang berada di baris ketiga mengatakan ada tiga motor mengikuti kami dengan cara yang mencurigakan, saya lalu memutuskan secepat mungkin menemukan teman, dan akhirnya saya berhasil membuntuti sebuah Suzuki APV, lalu bersama sama kami perlahan menembus rimba belantara.

Tak lama kami berdua dibuntuti sebuah mobil lain, tadinya saya mengira ybs ketakutan juga kalau jalan sendirian, namun saat saya masih sibuk memilih milih jalan diantara lubang, mobil Fortuner putih ini melesat dengan kencang seakan tak perduli dengan lubang-lubang, bahkan terkesan seperti dikejar Debt Collector eh dikejar setan maksudnya. Saya tak mungkin mengejarnya dengan muatan 7 penumpang, full oleh-oleh dan Thule menempel diatas atap. 

Belasan menit kemudian nampak Fortuner putih datang lagi namun kali ini berlawanan arah, perasaan saya langsung tak enak, ada apa di depan kami dan kenapa Fortuner putih tsb kembali dengan sama cepatnya ? Namun adik mengatakan, itu bukan mobil yang sama, karena yang menyusul kami plat BG sedangkan yang berlawanan arah plat B. 

Setelah melewati medan berat, dan bahkan sempat menerobos celah sempit dibawah pohon patah karena jalur kanan tidak bisa dilalui, akhirnya menjelang Krui nampak sebuah Rumah Makan pertama yakni Rumah Makan Ceria LA. Pemiliknya yang ramah menanyakan rencana kami, karena sudah jam 21:00 istri mengajukan ide untuk menginap di Krui saja, 5 jam tambahan perjalanan dengan estimasi sampai di Bakauheni jam 02:00 dinihari tentu butuh stamina. Namun adik ipar menyanggupi untuk bisa menyetir di lima jam berikutnya menggantikan saya.

Lalu kami kembali melanjutkan perjalanan, mendadak adik ipar menglakson kencang di tengah hutan, ternyata dia kaget sekali ketika melihat batang pohon menjulur setinggi manusia dan menutup separoh jalan. Untung saja dia sempat mengindar ke kanan, entah apa yang terjadi kalau kami menabrak batang tersebut.  Lewat tengah malam, adik mendadak berhenti di sebuah kantor polisi di tengah hutan tanpa tanda kehidupan, dan mengajukan ide untuk tidur, namun saya berkeras untuk melanjutkan perjalanan dan mengambil alih kemudi. Alhamdulillah saat hujan lebat kami akhirnya memasuki Bandar Lampung dan langsung menuju Bakauheni. Saat tidak menemukan SPBU Pertadex, kami terpaksa kembali menggunakan Bio Solar.


Rute ini selain paling sulit juga paling sering diseberangi Sapi (yang 2x hampir saya tabrak), kambing, ayam dan anjing. Anak-anak juga menjadikan jalan sebagai halaman bermain, sementara orang tua menjadikannya sebagai lahan untuk hajatan dimana separuh badan jalan sudah digelar tikar serta jamuan. Begitu juga ibu-ibu yang hanya mengenakan handuk hilir mudik, entah dimana kamar mandi tujuannya.







Jam 02:30 Tanggal 26/Des/2015 akhirnya kami memasuki Ferry dan berlayar menuju Merak. Menjelang Merak nampak gumpalan awan keabu-abuan keluar terus menerus dari PLTU Suralaya. Tepat jam 06:42 ban mobil kami menginjak Tanah Jawa, dan memasuki tol, lagi-lagi dampak pengisian solar busuk terakhir di Bandar Lampung menyebabkan indikator Check Engine kembali menyala. 

Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/12/jelajah-sumatera-part-10-dari-10.html

No comments: